Kamis, 02 April 2009

Mengabaikan Al Quran

. Kamis, 02 April 2009 .


Mengabaikan Al Quran



Berkatalah Rasul : “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang diabaikan.” ( QS Al Furqon (25): 30)


Saudaraku, kita terpisah waktu yang jauh dengan Nabi Muhammad saw. Kini kita sudah berada di tahun 1429 Hijriyah, itu artinya kita terpaut sekitar 1500 tahun lamanya dengan saat wahyu pertama turun kepada Beliau saw. Pada saat Beliau saw diutus menjadi Rasul di muka bumi ini, keimanan para sahabat sungguh luar biasa. Ada sahabat yang sepanjang hidupnya hanya beribadah terus –walaupun kemudian Rasulullah mengingatkan bahwasanya tubuh juga memiliki hak demikian juga dengan keluarga- ada yang bisa mengkhatamkan Al Quran dalam 3 hari, dan lain-lain. Rasulullah sendiri menganjurkan membaca Al Quran maksimal 3 juzz sehari. Demikianlah para sahabat yang menjadi murid-murid Rasulullah dalam menanamkan ibadah secara keras dalam kehidupan mereka sehari-hari. Tidak heran jika kemudian banyak di antara mereka yang menjadi da’i penerus Rasulullah sepeninggal Beliau. Mereka digambarkan laksana singa di siang hari dan bagaikan rahib di malam hari. Mereka meluangkan waktu, dan meninggalkan tidur mereka untuk berjumpa dengan Allah SWT.


Saudaraku, jika para sahabat demikian keras membina diri mereka dalam melaksanakan segala perintah Allah tanpa banyak bertanya dan bicara. Apa mungkin para sahabat berani mengabaikan Al Quran? Jawabnya tentu tidak. Karena Al Quran bagi mereka benar-benar suatu panduan mereka dan pegangan untuk meniti hidup. Kalau begitu siapa yang dikeluhkan oleh Rasulullah? Seakan-akan Beliau saw melihat kita yang hidup beratus-ratus tahun sesudahnya, seakan-akan Beliau tahu bahwa kita umatnya, kaum Muslimin mengacuhkan Al Quran. Bagaimana kita tidak mengacuhkan Al Quran, membaca Al Quran saja kita jarang. Apalagi disertai memahami maknanya. Apalagi sampai menjalankan perintah dalam Al Quran secara paripurna (kaffah). Ya kitalah ternyata yang memang mengacuhkan kitab suci kita sendiri. Pernahkah kita berpikir, sudah berapa lama telah kita miliki kitab Al Quran dan berapa lembar yang telah kita baca kemudian kita hayati atau kita hapalkan. Tidak usah jauh-jauh, sudah berapa juzz yang kita hapal dari Al Quran? Jangankan berapa juzz, kadang hanya untuk menghapalkan juzz ‘ama (juzz 30) saja kita belum tentu hapal. Padahal jika kita mau menghapal dan mengambil pelajaran dari Al Quran, Allah sendiri telah menjanjikan kemudahan bagi kita. Mari kita simak Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al Qomar (54):17).


Saudaraku, apa kiranya nanti yang akan kita sampaikan kepada Allah jika kita ditanya tentang umur kita? Umur kita digunakan untuk apa? Apakah kita akan berani mengatakan, “Wahai Tuhan kami, kami adalah pewaris Al Quran, dan kami gunakan umur kami untuk mempelajari Al Quran dan menjalankan perintah di dalamnya.” Rasa-rasanya kita belum pantas jika disebut pewaris Al Quran, dan rasa-rasanya kita belum bisa dikatakan melaksanakan perintah Al Quran. Isi Al Quran saja kita tidak paham.


Saudaraku, hendaklah masing-masing dari kita ingat apa yang sudah kita persiapkan untuk menjemput ajal. Sekali lagi mari kita simak Al Quran kita yang suci:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Hasyir (59):18).


Ingatlah, jika kita memang senantiasa berusaha mempelajari Al Quran, tentu Allah SWT tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha kita. Allah akan mengumpulkan Al Quran di dalam hati kita, sehingga akhlaq Al Quran akan tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. ” (QS Al Qiyamah (75):16-17).


Saudaraku mudah-mudahan, kita bukan termasuk golongan orang-orang yang tidak mengabaikan Al Quran. Dan sebagai konsekuensinya, tentu kita harus membaca, mempelajari dan mengamalkan. Jangan sia-siakan waktu kita untuk hal-hal remeh, jika waktu senggang, bacalah Al Quran. Insya Allah, hati kita akan diterangi Nur Allah.


Wahai Allah, saksikanlah bahwa ini telah hamba sampaikan..


www.meditasimendoan.co.cc

---

4 komentar:

santi mengatakan...

Subhanallah....rupanya kita yg dimaksud oleh Nabi....

Edo mengatakan...

Ya betul mbak santi, sebentar aku mau nyari al Quran ku dulu...

Fahrudin mengatakan...

Cerita yang sangat menggugah jiwa,
penuh dg ide, salam sukses selalu

Fahrudin
http://www.idebesar.com

Semar Badranaya mengatakan...

Takdir adalah jalan hidup yang tertulis sejak Azzali... kita idak bisa merubahnya.
Yang kita bisa rubah adalah nasib.. entah apa dan bagaiaman elemen2 pendukungnya....

Nice posting with ur style... I like it :)

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Assalamu'alaikum, silakan tinggalkan pesan Anda untuk kami:

 
pkugombong.tk is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com